Islam Menjawab

Apakah Islam Membolehkan Kawin Kontrak?

Kawin kontrak nikah mut'ah

Kanalislam.com – Nikah mut’ah lebih dikenal dengan kawin sementara atau kontrak. Sedangkan pengertian nikah mut’ah itu adalah seseorang menikah dengan seorang wanita dalam batas waktu tertentu, dengan sesuatu pemberian entah berupa harta, makanan, pakaian atau yang lainnya. Lalu apakah diperbolehkan dalam ajaran Islam?

Jika masanya telah selesai, maka dengan sendirinya mereka berpisah tanpa kata thalak dan tanpa warisan. Misalnya bisa sehari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, dan seterusnya sesuai dengan perjanjiannya. Arti mut’ah sendiri adalah kesenangan atau senang-senang, sebab seorang laki-laki menikah hanya untuk bersenang-senang saja.

Keempat madzhab bersepakat bahwa nikah mut’ah itu haram hukumnya. Apabila dalam akad nikah itu disebut jangka waktu, maka akadnya itu menjadi batal dan tidak sah lagi. Hubungan yang dinikahinya juga menjadi hubungan perzinaan.

Adapun alasan diharamkannya adalah sebagai berikut:
Tidak mendapat dukungan dari AI-Qur’an yang ada kaitannya dengan talak, iddah dan hukum waris. Seluruh ulama empat madzhab telah melarang, kecuali kaum syi’ah yang mengizinkannya. Larangan Nabi SAW dalam sabdanya yang berbunyi:

‘Hai segenap manusia, aku telah mengizinkan kamu melakukan kawin mut’ah, maka sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sampai hart kiamat. (Riwayat Ibnu Majah).

Tujuan dan maksud dari kawin mut’ah itu hanya intuk memuaskan nafsu syahwatnya saja tetapi bukan mendapatkan keturunan ataupun membangun rumah tangga. Sayyidina Umar bin Khattab ra. juga mengharamkan kawin mut’ah pada khotbahnya diatas mimbar dan para sahabat tidak ada yang menentangnya.

Ada juga ulama yang berpendapat dalam tafsirnya. bahwa nikah mut’ah itu diizinkan oleh Nabi untuk masa tertentu dan tidak pernah dicabut (dimasukkan). Lalu para pendukung pendapat ini berkata : “Apabila nikah mut’ah dimaksudkan untuk mencegah penyelewengan dan perzinaan itu hukumnya diperbolehkan”

Banyak orang tua tidak senang bila anak gadisnya dikawin secara mut’ah. Seolah-olah wanita hanya diumpamakan seperti benda yang dipindah dari satu orang ke orang lainnya hanya untuk tujuan kepuasan nafsu syawatnya saja. Kemudian anak-anak yang dihasilkan akan menjadi terlantar. Jadi perkawinan mut’ah itu hanya akan merusak sendi-sendi bangunan pernikahan.

Sedangkan pernikahan itu sendiri menurut Islam ditujukan untuk memperoleh ketenangan dan ketentraman dan saling mencintai serta menyayangi. Selain itu, tujuan nikah adalah untuk hidup bersama-sama selamanya dan mencari ketenangan serta kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

51 + = 54

Terpopuler

To Top
%d blogger menyukai ini: